Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2012

Aku Cinta Sahabatku


Angin sore menerpa wajahku yang sedang asyik-asyiknya melamunkan hal yang ga tau kenapa bisa aku lamunin. Hal ini tuh udah bikin aku galau belakangan ini. Ya, apa lagi kalau bukan jatuh cinta. Jatuh cinta udah ngebuat aku kaya orang bego.
Tiap kali aku makan, wajah dia tuh selalu muncul, ngebayang-bayangin tiap langkah aku ke sekolah, dia tuh bagaikan bintang untukku, slalu nemenin tokoh ‘aku’ dalam mimpi aku. Sebenernya sih dia tuh temen chattingan facebook aku, dia tuh slalu ada kalau aku lagi sedih, ada masalah, juga kalau aku seneng, dia slalu ada buat jadi tempat berbagi kesenangan.
“Braakkkk!” suara itu kedengaran amat menyeramkan, dan setelah kusadari, ternyata aku terjatuh dari ayunan yang sedang kunaiki. Ya ampun, aku ngelamunin dia lagi… Apa yang terjadi sama aku? Masa aku baru aja ngelakuin hal bego kaya gitu? Hal yang mungkin ngebuat orang lain ngakak di atas penderitaanku.
“Awww…. Sakit banget kaki aku…” sebenarnya aku tau di taman ini ga ada orang lain selain aku, tapi kok aku ngerasa ada suara ketawa yang kejam? Hiiyyy, jangan-jangan…….
“Huaaaa”, aku berteriak kencang saking kagetnya. Baru kali ini aku denger suara hantu, ternyata suaranya tuh kaya manusia banget yah.
“Ya ampunnn, ini Kayla? Ahaha, aku ngga nyangka banget bisa ketemu kamu di sini, Kay”, kata suara itu. Haaaaa….. Salah apa aku bisa ketemu hantu di sore hari yang indah ini, ternyata hantu itu serba tau yaaa, masa dia juga tau nama aku, terus ya iya dia seneng bisa ketemu manusia bernama Kayla ini di taman terus nakut-nakutin dia, sementara aku…?
‘Tuhan tolongin aku Tuhan, bawa aku ke tempat yang aman, ke atas pohon boleh deh, asal aku ga usah ngeliat ni hantu gitu, ngga usah tatap muka sama diaaa…. Aku takut hantu….’, doaku dalam hati. Tapi kayanya itu cuma jadi mimpi soalnya aku masih di bawah pohon, di deket ayunan kuning ini…. Suara langkah kaki itu semakin deket lagi…
“aaaaaaa, jangan bunuh aku, mas hantu, aku masih belom punya pacar, masih banyak dosa sama mama sama papa… Pleaseee dong mas hantu, biarin aku hiduppp”, teriakku sejadi-jadinya. “Hahahahaha Kaylaa-Kaylaa… Kamu tuh yaa ngga di dunia asli, ngga di chat, sama aja: PENAKUT! Hahaha, ini aku, Mike…” kata suara itu… ‘Mike siapa’ kataku dalam hati…. ‘Mike??? Hah, cowo itu? yang sedari tadi aku pikirin? Cowo yang ngebuat aku jatuh memalukan dari ayunan? hahaha, ngga mungkin ah’, kataku sembari membalikkan tubuhku ke arah suara itu berasal. Hwaaa, wajah itu membuat hatiku bergetar hebat.
Ternyata itu beneran Mike ya Tuhan! Seketika lidahku tak bisa berkata-kata, ‘kenapa lidahku kelu tiap kau panggil aku’, gitu kalo kata sm*sh! aduh apa apan aku ini, di saat seperti ini aku masih bisa mikirin boyband asal Bandung favoritku itu… kembali lagi dong ke dunia nyata. “Hah, kamu beneran Mike?” kataku, memandang wajah dia yang berdiri di sebelahku sambil mengulurkan tangan, membantuku berdiri.
“Ya iyalah emang kamu mikir aku ini hantu yang tau nama kamu? Hahaha”, kata Mike seolah dapat membaca pikiranku. “Hehehe, ya kirain sih”, kataku, menyambut uluan tangannya. Baru kali ini aku melihat wajah aslinya, ternyata lebih cakep dari fotonya, ngebuat hati aku cenat cenut.
Kami mengobrol banyak di taman sambil menikmati matahari yang dengan malu-malu ke tempat asalnya. Senja itu, aku benar-benar ngerasain apa yang namanya indahnya jatuh cinta. Setelah mengobrol begitu lamanya, kami berpamitan, oiyah sekarang aku tau, dia pindah ke blok sebelah rumah aku. Aku jadi tetanggaan sama dia, senangnya   . Kami lalu pergi ke rumah Mike untuk Mike kenalkan sama keluarganya yang sering dia ceritakan di chat ym ke aku.
Mike pindah dari Jakarta ke Bandung, katanya sih papanya tugas kerja di Bandung. Dia tinggal sama keluarganya, yang barusan dia kenalin ke aku, Oom Anwar, Tante Rosa, dan adik perempuannya yang cantik, Mary. Mike sekolah di sekolah yang beda sama aku. Hari-hari berikutnya kujalani dengan senyuman yang menghiasi wajaku, menganggap bahwa semua hal buruk di dunia ini takkan berarti apa-apa bagiku, asal aku bisa liat wajah dia, wajah Mike setiap hari…
Sekarang Mike sudah menjadi sahabatku yang selalu ada di sampingku tiap aku ada masalah, dia selalu ngehibur aku.Semuanya jadi indah, sampai pada suatu hari, dia cerita ke aku tentang seorang cewe yang udah ngebuat hati aku sedih. Mike suka sama cewe itu, dan akhirnya setelah 3 bulan PDKT atau pendekatan, mereka jadian.
Aku ngga kuat kalo harus terus begini, aku harus ngomong sama Mike tentang perasaanku sebenarnya, sebelum aku dibuat gila sama perasaan cinta sama sahabat sendiri. Bahkan, sebelum kami sahabatan, cuma sebagai temen di dunia lain selain dunia nyata, yaitu dunia maya, yang ga pernah tatap muka sebelumnya, aku udah suka sama dia… Ya, kalo perasaan ini terus-menerus dipupuk kaya gini, apalagi dengan sikap baik bangetnya itu, sikap perhatian itu, aku ngga mungkin ngga cinta sama dia… Rasa cinta ini terus menerus tumbuh, semakin besar dan semakin besar. Kalau aku ngga ngomong, bukannya aku seneng, tapi malah tersiksa sama perasaan ini. Sampai pada suatu sore yang cerah, saat kami sedang ngobrol di taman kompleks sambil menatap awan yang terus menerus bergerak, aku menceritakan semua tentang isi hatiku, apa yang aku rasakan sama dia, dari kapan perasaan itu muncul, dan berbagai macam kalimat lain yang gatau kenapa langsung meluncur dari lidahku. Aku juga heran kenapa dia ngga kaget sama apa yang aku katakan.
Dia tetap tersenyum manis sambil mendengarkan aku bicara tentang perasaan terlarang ini. Setelah selesai semua beban di hatiku ini. “Mike, kok kamu malah senyum-senyum sih? Emang sih ceritaku tuh novel banget, tapi harus kamu tau, ini tuh kejadian sebenernya!”, kataku.
“Ngga kok, Kay, aku seneng kamu mau jujur sama aku, aku seneng kamu mau jadi the one yang mau tulus cinta sama aku… Ehm, sebenernya aku malu banget ngomong ini sebenernya. Aku juga suka sama kamu, Kay. Dari kita ketemu di chat ym, aku juga udah suka sama kamu, aku berusaha supaya jadi yang terbaik buat kamu. Tapi aku udah putus harapan, soalnya kamu tuh ngga ngasih respon ke aku”, jelas Mike.
“Hah? Kalau kamu juga suka sama aku, kenapa kamu jadian sama Lila? Kenapa kamu malah ngebuat hati aku tambah sakit, Mike setelah aku tau kejadian yang sebenarnya.”
“Sebenernya, Lila yang aku ceritain ke kamu itu, dia adik aku, aku cuma mau tau, apa kamu cemburu sama Lila atau ngga. Ternyata kamu cemburu yah, hehehe”, canda Mike, tapi aku kira ini janggal dan ngga lucu! “Mike, bukannya adik kamu namanya Mary? Kok kamu ganti jadi Lila sih?”, tanyaku penasaran.
“Yah, namanya kan Delila Mary Wijaya, nama belakangnya sama kaya aku: Michael Stefan Wijaya. Hehehe, maaf banget kalau aku udah bohongin kamu, Kayla.”
Mike membuat aku yang tadinya kesal bercampur senang merasa sedikit tenang.
“Jadi?” kata Mike. “Jadi, apa aku boleh jadi cowo yang bisa ngelindungin kamu, Kay?”, sederhana, tapi udah buat aku melambung tinggi, bagai terbang di atas awan.
“Aku mau, Mike jadi cewe yang bisa ngertiin kamu”, jawabku sambil tersenyum. Kami baru saja jadian dan aku sangat senang akan hal itu. Menikmati senja di dekat ayunan tempatku pertama bertemu dengan Mike, dengan suasana yang sama: langit senja berwarna merah keunguan membuat hatiku tentram. Ternyata, sahabat juga bisa jadi cinta.
sumber : http://www.lokerseni.web.id/2011/11/cerpen-remaja-aku-cinta-sahabatku.html

Cerpen Persahabatan: Temanmu Temanku



"Asssssiiikkkkk ...."

Teriak Diana masuk dalam kelas dan menghampiri bangku yang diduuki teman sebangkunya Asti ..

"Hey ti, tau ga? Tadi aku dapet berita katanya temanku smpku mau liburan ke Amerika .. "

Ucap Diana terlihat sangat senang, dan badanya tidak ikit diam ...

Asti rupanya terlihat bingung, ia mengeritkan dahinya dan bertanya pada Diana.

"Lalu kenapa kamu yang senang na? aneh dehhh? "ungkap Asti sebari mengambil buku dalam tasnya.

"Hemmmmm ...... hehehe J"

Diana hanya bergumam sebari dia duduk di tempt duduknya biasa dan terlihat tersenyum senyum ga jelas ..

"Idihhh kamu ga jelas dehh .. di Tanya kok malah cengar cengir ga jelas gitu ..!?"

Diana menghadapkan badanya pada asti, Diana mencolek tangan Asti pertanda agar asti pun ikut menghadap ke arahnya.

Astipun menghadap. Dan Diana menjawab pertanyaan Asti tadi
"Iya aku ikut senaglah soalnya ... emmmmm" ucap Diana belum selesai ..

"Soalnya kenapa?????"

"Iya soalnya aku juga di ajak ma temanku bwat liburan ke Ameika ini." Jelasnya, dina tersenyum senang pada Asti yang terkejut ..
"Wahhh masa sin a?" Tanya Asti tidak percaya!

"Ihhh iya tau, beneran!!" Jawab Diana meyakinkan Asti.

"Hemmm enak kamu" ungkap Asti sebari mengarahkan badanya lagi kedepan dan membuka buku yang ia keluarkan tadi dari dalam tas.
"Ihhh Asti aku pengen kamu ikut ..." rengek Diana.

"Emang di bolehin?" Tanya Asti
"Mungkin aja ...!???" Ujar Diana.

"Hemmm ga munkinlah ... jiahhh" celoteh Asti.

Bel sekolahpun berbunyi menandakan palajaran kelas pertama akan segera di mulai. Dating seorang wanita setengah bay memasuki kelas, dia adalah Ibu Dewi, guru IPA. Palajaranpun berjalan dengan lancar, jam demi jam di lalui dan tentunya dengan pergantian pelajaran tiap jam sampai tiba waktunya jam pulang.

Diana sampai dirumahnya, lansung saja dia pergi ke kamarnya, ia membuka pintu kamarnya dan ia langsing menyimpan tas sekolahnya di atas kasur ia pun membaringakan badanya dengan kondisi sepatu masih terpakai.

Diana mengambil ponsel yang ada di dalam saku seragam SMAnya. Ia menemukan kontak yang bernama Feby pada kontak ponselnya dan akhirnya ketemu. Diana lansung saja menelpon Feby dan berbicara cakap dengan Feby di telpon.

Pagi ini Diana sengaja dating lebih awal dari Asti, mungkin akan memberitahukan seseuatu atau mengkin karna Diana memang igin berangakat pagi hari ini.

Asti tiba, ia lansung saja menghampir tempat duduknya dan terrlihat disana sudah ada Diana, iapun lansung saja melontarkan senyumanya pada Diana.

"Hey tumben kamu dating pagi?) Tanya Asti pada Diana sambil tersenyum dan menyimpan tasnya di kursinya dan ia pun terduduk.

"Hehe iya aku lafi rajin" jawab Diana "eh aku ingin menyampaikan berita bahagia untukmu" lanjutnya.
"Apa?" Tanya Asti singkat

"Kamu di bolehkan ikut liburan, kmarin aku minta ijin kepada temanku"

"Beneran na? ihhhhh senenggggggg "ujar Asti terlihat sangat senang.

"Iya bener ti, aku juga seneng banget bias liburan ke luar negeri sama sahabatku J"

Seminggu kemudian liburan pun tiba, Diana dan Asti sudah menanti di bandara. Mereka menunggu Feby beserta kakaknya yang tainggal di Amerika dan pulang dulu hanya untuk menjemput adiknya Feby ke Indonesia dan mambawanya ke Amerika.

Dari gerbang terlihat kedatangan Feby dan kakaknya, sama seperti Diana dan Asti, mereka membaea koper berisi penyediaan beserta baju baju ganti.

Dari kejauhan Feby sudah melambaikan tangannya, aku pun membalasnya.

Feby menhampiri mereka "heyy kalian sudah lama menunggu?? J "Tanya Feby pada Diana dan Asti.

"Ga kok feb J" jawab Diana.

"Hey ti katanya ga kan ikut?" Tanya Feby pada Asti.
Diana telihat bingung. "Loh jadi kalian udaha pada kenal?"

"Haha iya na, kamu ga tau ya? Padahal kita sering membicarakan kamu saat di sekolah "ucap feby.

Diana menatap Asty kebingungan. Dan Asty hanya bias nyengir pada Diana.

"Hehe kita kan temen SD na" kata Asty pada Diana.

"Ihhhh kamu ga ngomong ya?" Ujar Diana kesel ..
"Heheheh kamu ga nanya sihhh J"

"Hahahah yasudah yang penting kalian udah tau semuanya kan?" Ucap feby menertawakan tingkah mereka. "Dan yang penting na kamu bias liburan sama sahabat sahabat mu yang cantik ini,,, hahah" lanjutnya.

Diana hanya tertawa geli dan dia terlihat seperti masih bingung.

"Ayo cepet tuh pesawatnya dah mau berangkat" ajak kakak Feby pada mereka bertiga.
"AYYYOOO .." jawab mereka serentak .. kakak Feby naya tersenyum melihat tingakah mereka J. Mereka bertiga berjalan bersama sebari menarik kopernya menuju pasawat dan kakaknya Feby jalan di depan mereka.

END Cerpen Persahabatan : Temanmu Temanku bagaimana menurut kalian? keren ga ..??heheh koment dech jangan Lupa like This yooo

[Kisah Islami] Kasih Sepanjang Jalan



Di stasiun kereta bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.
Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.
Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku.Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kak?? C". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada.Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya.Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal?? C
Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Yokohama, ditambah lagi mengurus dua putri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.
Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang.Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku.Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.
Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.
Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan.Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.
Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku.Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.
Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan keretaNarita Expres yang aku tunggu akan segera tiba.Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam mobil aku bernafas lega. Udara hangat dalam mobil mencairkan sedikit kedinginanku.Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.
Ibu .. ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar.Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku."Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini?? C" bisikku perlahan.
Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.
Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya.Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja.Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.
Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya.Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya.Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.
Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu ....
Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu 'tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah .. teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusanboarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku.Syukurlah, Window-seat, no smoking area , membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang.Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.
Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.
Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu ...
Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu ... Rini datang, bu ..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku.Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya.Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu ini menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu .." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.

Cerpen Lucu



Pemeras Kecil
Seorang anak kecil yang bandel melihat kakaknya dicium oleh teman lelakinya. Esok harinya, ia menemukan pria itu.
"Abang kemarin mencium kakakku bukan?" 
"Ya, tapi jangan keras-keras. Ini seribu untuk tutup mulut! " 
"Terima kasih, ini uang kembaliannya lima ratus!" 
"Lho, kok pakai uang kembalian segala?" 
"Saya tidak mau nakal, Bang. Semua orang yg mencium kakak juga saya tagih lima ratus! " 
"???!!!"

Salah nurunin Resleting
Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.
Bus kota datang, Tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.
Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya.Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.
Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.
"Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang! "
Si pemuda menjawab kalem, "Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue. "

SEDANG BUAT ADIK
Pada suatu malam seorang anak memergoki ayah dan ibunya sedang berhubungan intim. Lalu si anak bertanya, "papa sedang apa sama mama? ". Sang papa menjawab dengan tenangnya, "Sedang buat adik untuk kamu" tandas papanya. 
Keesokan harinya, si papa menemukan anaknya untuk di suruh mandi, tetapi sang papa terkejut bukan main saat melihat si anak sedang memasukkan alat kelaminnya ke dalam knalpot motor.Lalu si ayah bertanya, "nak, apa yang kamu lakukan?", Dengan santai si anak menjawab, "Sedang buat motor untuk ayah" .... ?????????

CARA MERAYU CEWEK
: "Abang, abang bener ² cinta ga ama AKU?" 
: "Tentu donk" 
: "Buktinya?" 
: "Walaupun laut terbentang luas diantara kita, aku akan berenang untuk sampai ke tempat mu" 
: "terus?" 
: "Meskipun ribuan gunung menghalangi kita, aku akan mendakinya untuk terus bersamamu" 
: "bener?" 
: "bener donk, dan WALAUPUN BADAI API MENGELILINGIMU, AKU AKAN MENEROBOSNYA UNTUK TERUS mendatangimu" 
: "terus kenapa kemaren gak dateng? " 
: "GERIMIS ...

TAK menuruti SUAMI
Seorang istri yang bawel merayu suaminya dengan setengah maksa agar dibelikan perhiasan yang indah. 
Karna tak tahan dengan rengekan si istri akhirnya si suami membelikan sebuah cincin berlian yang sangat indah buat si istri. 
Tentu saja si istri sangat senang, tapi sebelum memberikan cincin itu si suami menyuruh si istri berjanji. 
Suami: Ma, ni cincin saya kasih tapi mama harus janji, bahwa mama gak akan pamer ke temen2 mama atau orang lain. dengan alasan apapun 
Istri: Ok deh pap ... 
Suami: Bener ya ma, kalo mama melanggar janji, mama akan menyesal dan malu .. 
Istri: Ok pa, kalo mama sampe ngelanggar janji, mama siap menanggung akibatnya. 
Beberapa hari kemudian, sang istri marah marah hebat kepada suaminya ... 
Istri: Dasar papa keterlaluannnnnnnn ..... 
Suami: Kenapa Mam? 
Istri: Mau di taruh dimana wajah mama, tadi pas arisan temen2 ngolokin mama katanya cincin yang papi kasih tu imitasi. Mami maluuuuuuu ..... 
(Dengan entengnya) suami menjawab: Kan sesuai janji, mama dah siap menanggung akibatnya kalo mama mamerin tu cincin ke temen2 mama. 
Istri: Suami sialan ......!!!!

Mengapa surga ada di telapak kaki ibu
Seorang anak bertanya kepada Ibunya, 
"Bu, kenapa surga ada dibawah telapak kaki Ibu?" 
Ibunya menjawab, 
"Kalau diantara kedua paha Ibu, itu surganya bapakmu nak ..."

PENYAKIT MENULAR
Seorang wanita yang cantik dan seksi pergi ke Dokter untuk mengkonsultasikan penyakitnya. 
Pasien: "Dok, payudaraku kok terasa keras sekali dan sakit ya?" 
Kemudian si Dokter mulai memeriksa dengan memegang payudara wanita tersebut untuk beberapa saat, dan si pasien kembali bertanya 
Pasien: " jadi bagaimana dok? " 
Dokter: "Ini sepertinya penyakit menular. Sekarang ada bagian tubuh saya yang keras dan sakit. "